Tampilkan postingan dengan label Pendapatku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendapatku. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 01 November 2008

Menanggapi seorang Kiai Kaya yang menikahi anak umur 12 tahun.

"SEMARANG (LampostOnline): Gadis remaja, Lutfiana Ulfa (12), dinikahi kiai nyentrik plus kaya raya, Syekh Puji (43). Ulfa dikenal sebagai siswi yang cerdas. Syekh Puji merupakan pemilik Ponpes Miftakhul Jannah, Desa Bedono, Kecamatan Jambu, Kabupaten Semarang. Ia sebelumnya menghebohkan dengan berita bagi-bagi zakat sebesar Rp 1,3 miliar. Pada Agustus ini, Syech Puji menikahi Lutfiana Ulfa yang baru lulus SD. Pernikahan digelar secara siri.."

Setiap hari liat Bapak ini di tv, buat aku jadi geram dan sedih..
Apalagi melihat cara si Bapak yang udah berumur itu berkomentar, tidak menggunakan kata2 yang bijaksana menurutku. Dari cara bapak itu berbicara aja sepertinya dia egois, sombong, gila hormat, dan merasa diri paling benar.Pasti deh anak 12 tahun itu hidup dengan doktrin dari si bapak tua itu. Trus anak mereka mau jadi apa nanti??

Waktu aku dengar berita ini, aku langsung mengingat diriku sewaktu umur 12 tahun.
Masih SMP, mempunyai angan-angan dan cita-cita yang tinggi dan Belajar mengerti arti teman dan sahabat. Setiap ada kata2 yang bagus aku pasti tulis di meja dan dinding kelas untuk motivasi, bersaing untuk mendapatkan nilai yang lebih baik dengan teman2 yang lain. Dan 1 hal lagi, waktu itu aku mulai naksir cowok dan punya pacar.Yah.. akhirnya aku mendapatkan nilai yang cukup memuaskan sehingga dapat melanjutkan SMA ke Medan.
Di SMA aku belajar arti disiplin dan usaha dalam mencapai tujuan, kesabaran, persahabatan dan belajar mengerti Rencana Tuhan dalam hidupku. Saat SMA, aku masih sangat labil, gampang terpengaruh, merasa paling benar dan ingin melakukan banyak hal. Hanya saja Takut akan Tuhan yang selalu membatasiku dari banyak hal yang ingin kulakukan.

Saat Kuliah Aku Semakin mengerti peranan Tuhan dalam hidupku. Aku tahu bahwa tidak semua orang itu tulus. Ada yang penipu, jahat, dan menjatuhkan, tapi pada saat seperti ini aku belajar untuk memaafkan. Ketika mimpi2ku waktu SMP tidak akan tewujud lagi, aku belajar tetap bersyukur dan menjalani yang sekarang dengan baik. Aku mulai bisa mengambil hikmah dari apa yang dialami temen2 ku dan apa yang kulihat. Belajar menanggapi suatu masalah dengan obkjektif dan belajar menjalani suatu hubungan yang membangun satu sama lainnya. Dan aku belajar dan semakin mengerti arti konsep "Teman Hidup" dan belajar "Mencintai karena aku ingin mencintai"

Sampai sekarang aku pun sedang belajar untuk menjadi lebih baik. Apalagi bagaimana menjadi seorang kakak (seorang dewasa) yang bisa menjadi teladan baik perkataan dan perbuatan.

Setiap orang memang berbeda2 proses pendewasaannya. Tapi sebaiknya itu adalah proses yang wajar. Karena itulah aku sedih ketika anak 12 tahun ini, saat masih bertumbuh baik tubuh dan psikologinya harus menjadi ibu rumah tangga. Apalagi dengan orang se arogan Bapak tersebut. Menurutku banyak kok cara beribadah (kalau memang itu niatnya), Bapak tersebut bisa menyekolahkan anak tersebut sampai berhasil. Toh masih banyak juga janda-janda tua dan miskin yang bisa dinafkahi lahir batin (dinikahi) , jangan anak kecil dong..
*emosi nih jadinya..